mendengarkan

Kontribusi Bahasa, Sastra dan Budaya terhadap Perubahan Sosial Budaya

Narasumber: Ignas Kleden (sosiolog)

Senin, 3 November 2008

Tempat: Pusat Studi Bahasa Jepang, Fakultas Sastra Unpad (Jatinangor)

 

Perubahan sosial budaya adalah hal yang akan terus berlanjut selama kehidupan umat manusia masih berlangsung karena manusia adalah satu-satunya makhluk di muka bumi ini yang bersosial dan berbudaya. Namun yang menjadi bahan pengamatan ialah sejauh manakah peran bahasa, sastra dan budaya terhadap perubahan tersebut.

Setiap penggunaan bahasa bersifat ideologis, relatif dan demokratis. Begitu pun dengan bahasa Indonesia yang bersifat ideologis terkait dengan penetapan bahasa tersebut sebagai bahasa persatuan (Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928) dan bahasa negara (UUD 1945 pasal 36). Bahasa Iindonesia dipilih menjadi bahasa negara karena diyakini lebih demokratis dan egaliter sebab tidak mengenal tingkat tutur. Akan tetapi Indonesia memiliki berbagai macam bahasa daerah yang tentu saja pelestariannya perlu diperhatikan disamping bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi sehingga terkadang kedua jenis bahasa ini beralkulturasi dan menjadi hal yang signifikan dalam mempengaruhi kebudayaan bangsa. Belum lagi ditambah dengan tantangan internasionalisme, masuknya pengaruh bahasa luar menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa ini. Dalam hal ini ideologi bahasa Indonesia harus bertarung menegakkan eksistensinya, bangsa ini dituntut untuk mengitegrasikan kembali bahasa persatuan, bahasa Indonesia, dengan meningkatkan keterampilan berbahasa karena pendidikan  bahasa di negara ini lebih menitikberatkan pada bidang linguistik sehingga bahasa hanya dipandang sebagai substansi semata.

Dalam bidang sastra, sebuah karya menjadi hal yang perlu diperhatikan peranannya dalm perubahan sosial budaya. Pengaruh karya sastra terhadap kehidupan tidak bisa dirasakan secara langsung mengingat bangsa ini bukanlah bangsa yang tidak terlalu mengapresiasi karya sastra, masih sedikit penulis yang berhasil mengubah paradigma bangas ini. Andrea Hirata dengan novel tetraloginya yang fenomenal adalah satu dari sedikit penulis itu. Meskipun sebenarnya peluang pasar terhadap intelektual sastra cukup tinggi, namun pembelajaran yang umumnya diterapkan di Indonesia kurang bisa membangun atmosfer untuk perkembangan kesusasteraan. Padahal hal yang harus dilakukan untuk membangun atmosfer tersebut tidaklah terlalu sulit, misalnya dengan mempraktekan bahasa ke dalam sebuah karya. sastra. Mahasiswa yang membaca sebuah novel secara utuh kemudian mengapresiasikannya jauh lebih baik daripada yang membaca ringkasannya saja, karena apresiasi sangat penting untuk mengukur persepsi.

Kebudayaan muncul sebagai pertanggungjawaban yang sistematis dan logis terhadap sebuah pandangan. Dengan kata lain kebudayaan muncul sebagai bentuk tanggung jawab dalam memaknai hidup. Sedangkan budaya terkait dengan perubahan sosial budaya  dapat diartikan sebagai salah satu faktor pemicu karena konsep pluralisme yang dimiliki oleh kebudayaan  Indonesia belum dipahami benar oleh semua masyarakat.

Hal tersebut terkadang dapat menimbulkan ketegangan antar daerah. Ahli budaya mestinya lebih membuka mata untuk menanggapi fenomena-fenomena kebudayaan yang lebuh luas, jadi mereka tidak berkonsentrasi pada masalah yang sama dari dulu, diharapkan juga agar para ahli tidak sibuk dengan  perbedaan peran sebagai public intelectual. Jika masalah ini tidak ditanggapi maka kebudayaan akan semakin memperkuat perbedaan. Dalam memandang sebuah kebudayaan, kita harus melihat bagaimana kebudayaan itu digunakan sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang lain.

Selain kontribusi bahasa, sastra dan budaya, kondisi ekonomi luar juga berpengaruh terhadap perubahan sosial budaya. Kondisi ini terletak pada kekuatan globalisasi yang bisa berarti juga pertentangan yang sangat kuat  karena melibatkan elite-elite politik dunia, internasional intelegensia, sosial politik dunia dan kebudayaan global.

Advertisements
Standard