Uncategorized

Layar Terkembang

St. Takdir Alisyahbana

Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan pertama 1937

Buku yang saya baca adalah cetakan ke-19 thn. 1989

Pertama kali saya membaca buku ini adalah ketika saya sekolah di smp. Saya meminjam buku ini di perpustakaan.

Saya membacanya kembali setelah menemukannya di antara koleksi buku-buku mendiang ayah.

Buku ini sarat dengan isu persamaan gender. Ada tiga karakter utama dalam cerita; Tuti, Maria dan Yusuf. Tuti dan Maria adalah kakak beradik yang memiliki karakter berlawanan. Tuti adalah seorang wanita yang keras, anggota pergerakan, aktif dalam berbagai organisasi yang bertujuan mengangkat harkat derajat wanita. Maria adalah seorang gadis ceria, tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang berat. Maria dan Yusuf menjalin cinta. Hubungan percintaan mereka terputus karena Maria sakit dan akhirnya meninggal. Yusuf akhirnya menikah dengan Tuti.

Isi pidato Tuti pada kongres Pemuda (hal. 37)

Pendidikan budi pekerti perempuan semata-mata ditujukan untuk keperluan laki-laki. Segala sifat lemah itulah dijadikan sifat perempuan yang termulia. Perempuan mesti sabar, perempuan mesti lemah lembut, perempuan mesti pendiam, berjala nperempuan tiada boleh lekas-lekas, berbicara dan tertawa tiada boleh keras-keras. Dalam segala hal ia harus halus.

hal. 38

Demikianlah perempuan yang dicita-citakan oleh Putri Sedar bukanlah perempuan yang berdiri dalam masyarakat sebagai hamba sahaya, tetapi sebagai manusia yang sejajar dengan laki-laki, yang tidak usah takut dan minta dikasihani. Yang tiada sika melakukan yang berlawanan dengan kata hatinya, malahan yang tiada hendak kawin, apabila perkawinan itu baginya berarti melepaskan hak-haknya sebagai manusia yang hidup sendiri dan berupa mencari perlindungan dan meminta kasihan. Ya, pendeknya seratus persen manusia bebas dalam segala hal.

Tuti hampir saja menerima lamaran dari teman kerjanya, Supomo, karena kegelisahannya yang belum menikah dan memiliki anak di umur 27.

hal. 105

Kalau tidak saya terima sekali ini, pabilakah datang kesempatan yang lain?

Tiada tahu ia berapa lamanya ia terlentang di tempat tidurnya, terombang-ambing di tengah perjuangan perasaan dan pikirannya. Sebentar serasa tidak mungkin tidak ia harus menerima permintaan Supomo itu, sebab kesempatan yang serupa itu tiada akan datang lagi. Tetapi sebentar ditangkapnya dirinya kalah oleh perasaan kelemahan. Ia tiada dapat cinta akan Supomo dengan sepenuh-penuh hatinya, sebab Supomo tergambar kepadanya hanya sebagai orang yang baik hati, yang tiada mempunyai sesuatu kecakapan yang akan dipujanya. Kalau ia menjadi istrinya, maka perbuatannya itu bukanlah oleh karena cintanya kepada Supomo, tetapi untuk melarikan dirinya dari perasaan kehampaan dan kesepian.

Dan dapatkan demikian ia merendahkan derajat perkawinan, ia yang senantiasa berteriak perkawinan atas cinta, atas harga-menghargai kedua belah pihaknya?

Tuti membalas surat dari Supomo

….

Tetapi sekarang, sekarang setelah saya bengis dan kejam menyelidiki segala lekuk dan relung hati saya, sekarang insyaf saya seinsyaf-insyafnya, bahwa apabila saya menerima permintaan itu, perbuatan saya itu semata-mata perbuatan putus asa; melarikan diri dari kengerian perasaan kesepian seorang perempuan yang merasa umurnya amat cepat bertambah tinggi.

 

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s