coretan

Perempuanmu, wanitamu, jalangmu

20150822_112242-1Maka apa yang kau harapkan setelah semuanya berakhir? Tak ada yang tersisa selain hatiku.

Aku tak berharap kau akan kembali menerimaku.¬† Tidak, sama sekali tidak. Aku tak akan mengganggumu. Aku masih punya hati untuk tidak mengganggumu, heh….mungkin aku terlalu berlebihan menilaimu, kau tak pantas untukku kau …kau… kau…

Bisakah kau lebih menghargaiku ?

Aku hanya ingin kau mengartikan hidupmu bukan hidupku. Kau tak perlu ikut campur dengan apa yang terjadi padaku, bangsat itu akan kuhajar tanpa ampun. Seperti yang kubayangkan saat ini. Aku mengutuknya.

Siapa yang ingin mimpinya diperkosa? Siapa?

Apa…aku tak mendengar jawaban!

Lebih keras lagi!

Kau benar-benar payah!

Untuk bicara pun kau tersendat-sendat apalagi hendak menopangku. Aku tak butuh rasa ibamu. Simpan saja untuk pelacur di sudut kota yang biasa kau pakai, tak ibakah kau padanya? Apa bedanya aku dengan pelacur? Kau sama sekali tak memandangku, mengapa? Tak berani kau menatapku? Pandanganku penuh dengan kebencian dan kejijian pada kaummu.

Hey aku bertanya padamu, bukan pada kasur yang kutiduri, bukan pada kursi yang kau duduki, kau dengar!

Jawablah aku? Darimana kau malam itu? Bersama perempuanmu? Bersama wanitamu? Bersama jalangmu?

Lalu, apa aku?

Dimana kau? Hah… aku tak peduli dimana kau, semuanya sudah berakhir, malam itu kau menyaksikannya. Dalam mimpi-mimpi jalangmu, dalam ketidakpedulianmu padaku.

Aku tak ingin kau disini, pergilah….

Jauh dari mataku, dari hatiku yang koyak, dari penciuman hidungku, dari semua tentangku!

Sejak kapan kau kembali? Mengetuk pintu rumah, pintu kamar kita yang sepi, oh bukan, ini kamarku, pintu kamarku.

Aku lelah menunggumu, kurindu suara ketuk pintu di senja hari, memberi senyum penuh cinta.

Hingga malam itu ….

Aku memang sendiri, tak bertuan

Sudah lama tuanku meninggalkanku.

Mengapa kau diam saja? hiduplah sebentar setidaknya untuk mendengar ceritaku dan ceritamu. Kita pernah satu  bukan? Kau yang berlarian mengejarku, berkorban apapun demi mendapat segaris senyumku, kau yang memanjat pohon mangga ketika aku dan calon cinta dalam rahimku merengek manja menginginkannya dan kau yang mengelus perutku tiap malam, mendongeng kisah-kisah nabi mulia, menidurkan aku dan calon cinta kita.

Tapi, sudah kubilang berulang kali semuanya sudah berakhir sejak malam itu. Malam kau mengacuhkanku, memilih bersama perempuanmu, wanitamu, jalangmu.

Lalu apakah aku?

Aku hancur malam itu, lebih dari kematian, dan itu karenamu.

Sayang, calon cinta kita sang pangeran tampan, menanyakanmu, setiap hari.

Kau bahkan tak melihat ketika mata hitamnya yang tajam membuka kelopaknya untuk pertama kali. Kau bahkan tak peduli saat aku berulang kali bolak balik di tangan malaikat Izroil. Aku tak mengerti. Kau mungkin tak pernah sadar, ia serupa denganmu. Ia adalah obat rinduku padamu.

Tahukah kau seberapa besarkah ia sekarang?

Kau tidak hilang ingatan kan?

Kemarin, ia datang membawa seorang bunga. Cantik sekali, pintar pula ia memilih mawar. Pangeran kecilku takkan sama denganmu. Ia akan menjaga mawarnya, selamanya.

Satu lagi, ia tak pernah menanyakanmu lagi, ia pun lelah dengan kebohonganku seperti aku lelah dengan kebohonganmu.

Minggu lalu pangeran kecilku memakai toga dan ia tak berharap kedatanganmu. Kau mati baginya. Aku dan pangeran kecilku telah sepakat menghapusmu.

Bagaimana denganmu?

Ah sudahlah … masa lalu bukan untuk didebatkan karena ia jauh sekali tak terjangkau, takkan berubah hanya karena iba padaku.

Demi tuhan, bicaralah sepatah! Aku ingin tahu mengapa kau meninggalkanku demi perempuanmu, wanitamu, jalangmu.

Lalu apakah aku?

Sayang, ingatkah kau pada bulan yang menggantung di malam pertama kita bersama? Sekarang bulan itu tak pernah lagi tampak, agaknya malas menemani kita lagi, ingin rasanya kutanyakan padanya. Mengapa ia begitu? Hmmm… rasanya aku tak perlu bertanya, aku sudah tahu jawabannya, itu karena kamu!

Hah…kau bilang aku berubah, tunggu dulu. Siapa yang berubah? Aku masih sama.

Kau yang pertama meninggalkanku, kau tak pernah lagi menyentuhku, kau tak lagi makan bersamaku, kau tak pernah lagi bercerita untukku, kau tak lagi membuat puisi untukku, meski hanya satu kata, satu kata cinta dan kau tak pernah lagi…..

Apa kau bilang? Itu semua salahku! Apanya salahku?

Bukankah kau yang …..

Baiklah kalau kau berpikir itu salahku, tapi apa salahku? bicaralah sayang! Aku tak mengerti.

Semuanya sudah berakhir malam itu, malam kau memililh perempuanmu, wanitamu, jalangmu.

Lalu apakah aku?

Pergilah dariku, sekarang juga!

Yang tersisa malam itu hanya hatiku, tapi bukan untukmu lagi, aku lelah menunggu suara ketuk pintu di senja hari. Aku lelah.

—-tamat—–

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
Standard
Uncategorized

Anakmu By Kahlil Gibran

20140802_113012

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu

Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu

Karena mereka memiliiki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka tapi bukan jiwa mereka

Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah engkau dapat kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu

Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur, tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan

Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan

Standard